Bangku tua

Bangku tua lusuh kakinya semakin lumpuh
tersadai dijemur terik panas
terhampar dibasah hujan rembas
retak marmar badannya ketara
seperti retak cinta adamaya
tapi menanti sepenuh teguh selama setia

Bangku tua
puas dengan pengalaman panorama manusia
saksi cinta berahi diatas tarusi
atau pendengar keluh kesah hamba susah
atau perantara kelahi manusia marah
atau peneman tangis si pengemis
klimaksnya dengan doa seorang musafir
mendanau liku fikir pada lembar takarir

Bangku tua
menghadap damai selat permai
angin bukit sayu hembus melambai
pepohon muda semakin subur lampai
antara anggerik dan lily mengharumi rampai
wasiatnya sudah terakam alam
cuma menanti ajal seperti senja nan suram
tapi tidak mahu bermati dendam
biarkan perginya seperti Muazzam

Bangku tua
semakin uzur digesel pinggul montel
semakin bisu disumbat bicara ngomel
semakin buta memandang aurat dara comel
semakin cemas menjemput undangan Izrael

Pelabuhan Mutiara, Nusajaya
May 18, 2010

Published in: on May 18, 2010 at 3:22 pm  Leave a Comment