Sesatnya Musafir Seorang Penyair

Di gurun kontang tamsil
sesatnya musafir seorang penyair
untuk dia terus bersyair
ungkapnya menguncup fakir
kedana kata dan fikir
dalam malam suram
dalam sejuk mencengkam
hanya bulan dan bintang
jadi petunjuk dibawa pulang
ke oasis jiwa yang tenang

Di belantara askara
terlencong kembara seorang pujangga
untuk dia tekal berprosa
denainya terus sengsara
papanya tulis dan eja
tika siang membahang
hatinya pedih walang
ditemani desir angin
melangkah kakinya yakin
ke pohon raga yang tulen

Di samudera kata yang luas
seorang pemuisi karam dan lemas
dengan sajaknya yang penuh emas
nafasnya membenam
tercungap nazam dan gurindam
dalam laut penuh gelora
terkapai di ombak derita
hanya tangan tuhan
yang bisa memautnya ke daratan
berpantai pasir-kan ilmuwan

Di kota metafora yang besar
seorang seniman keliru menyasar
dengan melodi gitarnya gusar
jarinya robek tercalar-balar
saat memetik vokal-vokal kasar
dalam irama lagu hawa nafsu
menyanyi dan menari balada bisu
hanya merdu dan lunak zikir
kan mampu mengajaknya berfikir
ke ruang qalbu yang zahir

Di desa bahasa yang kecil
seorang pemadah dikurung terpencil
bicaranya makin jahil dan bakhil
wajahnya rakus dan cengil
menghilangkan nur dan seri
kata-katanya kufur dari bistari
hanya kalimah suci dari langit
kan buatnya mafhum diri dan bangkit
berdiri tegak sebagai seorang abid

Di gurun pasir
di desa kecil
di hutan rimba
di kota besar
di luas samudera
hamba bahasa berkelana
mengembara makna sebenar
dari daerah sejuta onar

Molek Garden
Nov 24, 2010

Advertisements
Published in: on November 29, 2010 at 10:30 am  Leave a Comment  
Tags: ,

Air yang mengalir; antara cekal dan cabar

Leliku perjalanan sebatang sungai
masih mengalir tenang damai
halangan cekal batu; tebing utuh
pengalaman afdal ditempuh
jeram curam kadang tenggelam dirempuh
bukan mengancam karam; sekadar menegur angkuh 

harmoni frekuensi air
sejuk rasa tersindir
jalanan di rimba musafir
bertemu di muara sungai khawatir

alunan air; irama mengalir
ibarat seruling agung setia
tidak pernah putus bunyi
atau memutus harap sunyi
atau mendengus bosan sepi
atau mengeluh kecewa benci

Buih yang terbusa dipermukaan jernih
ialah askara puji dan tasbih
minta kita tafsir deras rohani
sementara di arus hilir duniawi
mengenal hakiki dan maknawi

Ledang, Tangkak
Dec 25, 2009

Published in: on November 28, 2010 at 4:41 pm  Leave a Comment  

Dia yang bernama Fatimah

Dia yang bernama Fatimah
adalah agung yang paling bertakhta
di atas singgahsana asuhan
dalam istana mewah ingatan
mendidik dengan cokmar ilmuwan
hemah dan bijaksana menuturkan kata
untuk kami marhean kerdil
yang baru ingin belajar hidup

Dia yang bernama Fatimah
adalah udara yang kami hirup
untuk melenyapkan segugus gugup
agar kami bisa tenang bernafas
melangkah juang sehabis kemas
berbekalkan kitab pengetahuan
dan bekas-bekas luka degil
sewaktu dipagar iklim jahil
untuk kami marhean kecil
yang baru ingin belajar hidup

Dia yang bernama Fatimah
adalah permaisuri sanjungan kami
doanya akrab di ruang ingatan
pesannya karib di muara kenangan
budinya yang luhur di pohon hati
jasanya subur di akhirat abadi
kan-kami kenangkan sampai musim senja
saat kami marhean comel
yang baru ingin belajar hidup

Dia yang bernama Fatimah
guru yang sarat kasih sayang dan cinta
rimbun dengan budiman dalam bicara
merendang diri bagai tunduk padi berisi
lebat rindu-nya laksana gurun salji
tegasnya padat; keras menegah jelas
mencipta jiwa kami marhean kecil
yang baru ingin belajar hidup

Dia-lah yang bernama Fatimah
sekuntum wardah paling merah
sewangi Az-zahra

Molek Garden
Nov 17, 2010

Nota kaki: Ingatan untuk guru. Pn. Fatimah terchenta.

Published in: on November 22, 2010 at 6:03 pm  Comments (3)  

Kerikil Rindu Di Arafah

Rindu Arafah kembali bertandang di sanubari
angin timur Baitullah menyusur luhur dan makmur
suci dan kudus dalam doa dan syukur
di gurun gersang jutaan jemaah berihram putih
bagai ombak berolak ke taman kasih
manisnya bersabar diuji kemarau debar
mencicip madu ibadat hemah dan lazat
wukuf insan berbunga tabah di Jabar Ar-Rahmah
menjunjung ingatan mahsyar di iklim Zulhijjah

Sekecil kerikil di Arafah buat kita terasa kerdil
mentari terik memanggang insaf yang tidak serik
dosa membintik keringat lalu membaja serumpun syafaat
saksi di Arafah melihat kita taat bermunajat
sepenuh ikhlas kita mengharap ampunan Al-Ghaffar
setulus jiwa kita mengaku kebesaran Al-Jabbar
kita hayati tawaf serta qiam, dan berdoa diam ke gerbang Multazam
di Hajarul-Aswad kita hirup wangian ghadat
lebih dari semerbak daisy atau seharum kasturi
di tiang arasy doa kita menyubur pasrah
sebelum menggunung hasrat untuk dimaqbul Allah

Di perlembahan safa dan marwah kita meniti sirah
kita mengulang ikhtiar menginsafi susah Siti Hajar
untuk diselam selaut iktibar yang mengajar
demi Ismail yang kecil menangis dahagakan air
dan Tuhan Maha Pemberi yang memencarkan zam-zam mengalir
di tanah kontang untuk menyenangi jutaan musafir
agar kerikil rindu di Arafah selalu basah
di bawah cerah matahari Zulhijjah

Rindu Arafah
bersulam zikir
bermanik takbir
bertafsir cinta
berulang di Aidiladha

Sand Warehouse
9 Zulhijjah 1431

Published in: on November 16, 2010 at 1:32 pm  Comments (4)  

Aduhai Merapi

Ketika gerimis jatuh di Yogya
Merapi merah di Kabupten dan Magelang
laharnya menggilis udara
lavanya tumpah diiring bahang
gegak-lah gempita seisi desa
cemas-lah gelisah warga kota
melihat merapi semakin berahi
bermuntahkan magma dan lahar
senusantara bergusar nanar

Aduhai Merapi
debu-debu mu berterbangan
menutupi rindu hati anak-anak desa
di tengah malam kedamaian
kau datang menyentap nyawa
ketika jasad di pembaringan
tiba-tiba keras lumpuh jiwa
dan mereka pun terkafankan
dengan debu kelabu
dan mereka pun kelemasan
dengan asap dan abu
dan mereka pun kekakuan
diterjah ‘sang tetamu’

Aduhai Merapi
kau goncang tanah jawa
seperti di goncang hati ini
perlahan mengalirnya lava
seperti leleh air mata
bezanya; air mata itu jernih
tapi lava mu hangat mendidih
membakar sayu mendedar sedih

Aduhai Merapi
dahulu Kali Talang sebatang sungai
dahulu Kali Tenang tasik yang permai
dan sekarang bahang-mu membadai
sejuk air berganti panas cair
yang kau kahakkan dari lohong api
dan kau ludah ke langit tinggi
lalu jatuh menimpa kami
sehingga penjaga mu pun
kau telan lenyap di dalam senyap

Aduhai Merapi
belasungkawa kami utus
dari batin yang tulus
buat anak yang piatu;
hilang ayah dan ibu
untuk tangis sang suami;
yang keguguran famili
pada rawan sang isteri;
yang tewas putra-putri

Aduhai Merapi
daya kami hanyalah insan
kepada Tuhan diputuskan harapan
segeralah kau aman diteman sang awan

Molek Garden
Nov 14, 2010

Published in: on November 13, 2010 at 7:52 pm  Comments (8)  

Sepohon Kenangan di Tanah Gersang

Ukhwah kita subur di pohon kenangan
ditanah gersang kita baja pengalaman
berdua kita tekuni makrifat
bersama kita gigihi tekad
angin rindu bersiul mendesirkan kurnia
gerimis kasih menyusul membasahkan kita
tanah ini semakin syumul berharum cinta

Pada sebutir pasir fitrah
keringat kita jernih tumpah
Tuhan merahmatkan sedikit takdir
seluas langit bumi; selebar angkasa raya
izin-Nya memekarkan pohon kenangan
supaya berbunga-bunga kuntuman rindu
agar berbuah-buah lazat di qalbu
meranum semanis-manis malu
menebar ciuman harum
sewangi-wangi bau

Lamanya kita tak sedar
tanah gersang ini dibaja iri
dan pohon kenangan pun mati
perlahan-lahan bunga rindu gugur
buahan qalbu gering di ranting
lenyaplah ranum dan harum
yang berbaki hanyalah kenangan
di pasir fitrah di tanah gersang

Sand Warehouse
Nov 11, 2010

Published in: on November 13, 2010 at 12:27 pm  Leave a Comment  

Antara dua pertemuan

Siang dan malam
berselisih di senja
bulan dan bintang
bertentang di angkasa
ombak dan pasir
di pantai bersua

dua pertemuan
terlukis sangat cantik
di tangan Tuhan

Sand Warehouse
Nov 11, 2010

Published in: on November 11, 2010 at 11:10 am  Leave a Comment  

Kata dua

Antara hujan atau mentari
aku ingin memilih gerimis
antara bakti dan budi
aku ingin membaja pahala

Usah tetapkan
apa yang aku mahu

Johor Bahru
Nov 9, 2010

Published in: on November 9, 2010 at 2:31 pm  Leave a Comment  

Syair Lentera Mustika

Sumber gambar disini

Dengarkan tuan sedikit ulasan
dari saya ingin sampaikan
mana yang salah mohon maafkan
andai tersumbang silap tafsiran

Ainur Mustika diberi nama
menjadi teras watak utama
di Lentera Mustika ia berkelana
mencari cinta menggali bahagia

Dilukiskan Ainur bersederhana
berjiwa luhur bersukma bahasa
berpantun gurindam paling di suka
tujunya mahu mendarjatkan sastera

Ainur direbut tiga jejaka
tidaklah dia terburu buta
pada tuhan Ainur berdoa
untuk ditunjukkan cinta yang nyata

Pertama cintanya pada Syed Amirul
di Sungai Musi janji tersimpul
kerana darjat asal dan usul
di Selat Melaka cintanya masyghul

Datang Zul Farhan menaruh harapan
agar diberi ruang dan kesempatan
namun Ainur tidak terkesan
Zul Farhan hanya dianggap anak didikan

Di suatu hari Ainur terpikat
pada suara yang berona mufrad
Emir Johanlah yang punya jasad
di dalam diam menyimpul niat

Betapa Ainur berdamba bahagia
bersama Emir Johan sinarnya bermula
biarkan kering Selat Melaka
sikit pun tak layu janji setianya

Baru Ainur hendak merasa cinta
tidak terbayang ujian menimpa
ternyata bahagia pinjaman cuma
yang kekal nyata hanya di syurga

Ibaratlah Ainur Mustika seperti lentera
terang benderang menyuluh segala
malap tak padam tetap menyala
dibawa ke mana indah bercahaya

Molek Garden
Nov 1, 2010

Published in: on November 1, 2010 at 5:28 pm  Leave a Comment  
Tags: ,