Serombong Industri

Asap hitam berlomba kepul
bergabung di kaki langit
putih awan dicabul
burung yang menjerit
nafasnya tercepit
pandangnya perit
terbatuk sakit

Industri mega
malar meniti fasa
graf iktisad memuncak
serombong kembang mencanak
tanah terbiar lalang
bagaikan sezarah peluang
mencabar orang dagang

Kesan Rumah Hijau
terhijab bahananya
untung yang dicekau
ada bayarannya
ozon sfera dikikis
radiasi meniris
cuaca menggila
tak dapat diramal
menujahkan fasal

Alam tidak lagi permai
dulu mendakap damai
kini menyergah badai
dulu menyapa mesra
kini mengugut bala
baranya yang terpendam
siapakah yang mampu padam?

Pasir Gudang
Jan 31, 2011

Published in: on January 31, 2011 at 8:52 am  Leave a Comment  

Natrah Dan Pengasah Pensilnya

Natrah
masihkah kau ingat
tika aku pinjami engkau
pengasah pensil kecilmu
yang bulat merah warnanya
semerah kaus kakimu
semerah ikat rambutmu
dan semerah gelang di tanganmu itu!

di belakang pengasah itu
ada secebis cermin kecil
yang asyik kau intai
anak rambutmu yang jatuh
halus bagaikan baldu kuda
menutup ruas dahi licinmu
atau selalu kau belek
pipimu yang berurat hijau
kan menjadi merah bila tersipunya engkau

Natrah
masihkah kau ingat
tika aku pinjami engkau
pengasah pensil kecilmu
yang bulat merah warnanya
lalu ia jatuh ke bawah meja
dan cermin kecilnya pecah
menjadi keping-keping kaca
yang tak mungkin bercantum kembali

lalu aku terus kau biar
lalu aku kau campak terdampar
ke pulau asing dalam hatimu
tiada lagi suaramu;
menyapaku setiap pagi
tiada lagi senyummu;
yang bercahaya seri
tiada lagi candamu;
yang menghiburkan hati

Walaupun telah kugantikan
dengan pemadam getah negara Oman.

Memori Bilik Darjah 1996
Jan 29, 2011

Published in: on January 29, 2011 at 8:49 am  Comments (2)  

Benih Fitrah

Kambuskan sebutir benih
pada tanah sepadu subur
biar tumbuh tujuh kasih
bertangkai putih daun-nya luhur
menguntum seratus mawar terpilih
kelopaknya seindah sabar
mekarnya secantik fajar
baunya merdu
mewangikan rindu

Benih sebutir
campak ke pasir
jadi gunung
hanyut di laut
jadi pulau
di terbang angin
jadilah langit.

Molek Garden
Jan 28, 2011

Published in: on January 28, 2011 at 2:39 pm  Leave a Comment  
Tags: ,

Mencari Khusyu’ Yang Hilang

Aku ingin mati
di takbirratul-ihram yang pertama
berdiri tegak
bagaikan mayat
yang lurus terbaring
di dalam qiam
tidak begerak
bagaikan jasad yang gering
mata putih terpaku
melihat senyuman Izrail
jiwa merintih syahdu
terdengar bisik
raqib dan atib
air mata yang tumpah
sesal pun tak berguna
hanya rija’ yang melingkar
sedangkan khauf
sudah lamanya tersangkar.

Jan 27, 2011
Chembong

Published in: on January 26, 2011 at 5:27 pm  Leave a Comment  

Tenang

Susah senang dulu berjanji
tambah kukuh ikrarnya wangi
dulu Tenang pekan yang sepi
kini riuh malam ke pagi

Ada datang menggalas bulan
ada memikul dacing yang rata
Tenang dilimpah mega kurniaan
dapat dirasa entahkan bila?

nyaring suara semboyan ceramah
bagaikan helang cakar mencakar
jaga telinga elakkan fitnah
Tenang runsing memilih benar

puteri bujang pemuda terpaut
sambil mengacah di bawah langit
janganlah Tenang mudah hanyut
digogok mewah periuk hangit

timbang sekati adil saksama
bagaikan bulan terbelah dua
ber’Tenang hati tuan semoga
pilih yang baik budi bicara

Nerasau
Jan 23, 2010

Published in: on January 24, 2011 at 3:00 pm  Leave a Comment  
Tags:

Hati Seniman

Hati seniman itu
bagaikan tasik
aman dan cantik
membajakan asyik
laksana cindai
halus dan lembut
membelai sambut
seluruh alam
akan menyantun salam
pada tinggi pekertinya
pada hikmah suaranya
pada redup matanya
pada rengkuh nafasnya
setiap langkah kembaranya
disalin takarir sejarah

Hati seniman itu
senang sekali terguris;
pada desir angin
mudah terusik;
bagaikan air dikocak
enteng merekah;
bak segembur tanah
dia akan menangis
bersungguh-sungguh
sampai air matanya
kering gering
ibarat sahara
yang tidak pernah hujan

Hati seniman itu
meruntun kecewanya
pada embun pagi
mengeluh sedihnya
pada bulan dinihari
mengaduh nasibnya
pada sengat mentari
askara tintanya
sudah tiada erti
pabila dijilat api

Tabahkanlah hatimu
wahai bapak sasterawan!

16 Jan, 2011
Molek Garden

Published in: on January 17, 2011 at 5:23 pm  Leave a Comment  
Tags: , ,

Pengembara Kota

Dia seorang pengembara kota
berbaju putih yang lusuh
namun hatinya tak merusuh
kulitnya hitam berdaki
begitu jiwanya tiada dengki
ke sana ke mari di celahan kota
punggung bangunan;
timbunan sampah
di sana rezekinya tumpah
tiada lagi pohon simpati
mengugurkan buahan kurnia
hujan niraga pun berhenti
sedang dia menakung tangannya

Dia seorang pengembara kota
di tangannya ada tongkat sakti
untuk mengais segunung sisa
untuk menguis dataran reja
mencari tin yang kosong
ataupun botol yang nihil
karung guninya yang lapar
hanya kekenyangan angin
namun dia pengembara kota
tiada kamus putus asa
selagi dicatat Mikail
panennya adalah sen sen kecil
pada tin yang kosong
ataupun botol yang nihil

Johor Jaya
15 Jan, 2011

Published in: on January 16, 2011 at 5:45 am  Comments (2)  
Tags: ,

Dompet Lusuh

Dompet ini sudah tenat ditikam masa
hingga terserpih sana sini terputus benang
robek dan koyak depan belakang
tetap setia diusung bawa
merata taburan sudah jelajahnya
sudah cekal pengalaman bersama
ada ketika ia padat ber-uang tunai
menjadi teman si fakir membeli langsai
ada kala ia nipis tak berisi
menjadi saksi si kaya berhutang lagi

Oct 30, 2010
Pasar Karat, Johor Bahru

Published in: on January 13, 2011 at 4:43 pm  Leave a Comment  
Tags: ,

Secangkir Usia

Secangkir usia kita teguk
dahulu nira yang nikmat
kini pahit terasa mabuk
lidah bicara dulunya hemat
kini digogok katanya kesat
budi peri dulunya beralas
tumpahnya kini tidak berbekas
di mana hilangnya?

Secangkir usia
dituang kopi-nya masa
pekat pahit hitam semalam
atau teh ‘o’ tidak bergula
se-oren jernih senja terbenam
hangat berasap beruap amarah
menduga debar menguji sabar
wangian herba yang harum terbau
melakar gembira kuntuman rindu
kita reguk pengalaman zahir
sampai habis titisan terakhir
kita hirup doa yang batin
musim gugur diperbacaan talqin
kopi yang tulen dan teh yang dingin
ke mana perginya?

Secangkir usia putih kesumba
porselinnya rapuh berkembara
sumbing yang berbekas luka
tidak terbelah meski retaknya
masih elok  berbudi
molek dituang bakti
kosong minta diisi
lagi dan lagi.

Molek Garden
Jan 3, 2011

Published in: on January 11, 2011 at 1:17 pm  Leave a Comment  
Tags: ,

Kalam Yang Berbisik

Image Hosted by ImageShack.us

Published in: on January 8, 2011 at 7:52 am  Comments (2)  
Tags: ,